Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Thursday, January 30, 2014

Pengusaha Indonesia menilai ekspor sebagai pasarpotensial. Sejumlah pameran selalu mereka manfaatkanuntuk memperkenalkan produk dan menjaring konsumensebanyak mungkin.

Hal ini terlihat pada perhelatan Trade Expo Indonesia (TEI) Ke-27 yang berakhir kemarin. Pameran yang dilaksanakan di Jakarta International Expo Kemayoran ini diikuti oleh 600 perusahaan besar dan UKM. Pameran juga diikuti oleh sejumlah pemerintah daerah yang menampilkan produk-produk khas mereka. Sejumlah warna negara asing juga tampak banyak mencari dan membeli produk-produk asli Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika memberikan sambutan pada pembukaan TEI berharap acara ini bisa memberikan kontribusi pada pemasaran produk-produk Indonesia di pasar mancanegara.

"Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kita berharap ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Melalui TEI 2012,pelaku usaha dalam negeri dapatmemasarkan produknya dan menjalin kerja sama yang lebih luas dengan duniaInternasional,"ungkapPresiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika memberikan sambutan dalam pembukaanTEI 2012,Rabu (17/10).

Presiden berharap, acara yang diini-siasi Kementerian Perdagangan (Ke-mendag) ini akan bisa mencapai target nilai transaksi sebesar USD2 miliar. Target tersebut dinilai tidak berlebihan sebab melihat ribuan buyers yang hadir setiapharidantransaksiyangdilakukan dalamjumlah besar,optimismetersebut mutlak menjadi kenyataan.

Dalam tiga hari pertama, nilai transaksi pada TEI senilai USD641,05 juta. Pada tiga hari pertama.konsumen terbanyak berasal dari Nigeria dengan jumlah 14,15% dari total transaksi. Pada urutan berikutnya adalah konsumen yang berasal dari Vietnam (1,9%), Filipina (1,18%), Aljazair (0,36%) dan Turki (0,36%).

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, pameran yangmeru-pakan ajang promosi ini menyuguhkan beragam komoditas produk lokal unggulan. Pameran ini diikuti oleh sekitar 1.300 peserta, baik dari BUMN, UKM, dan koperasi yang memasarkan berbagai produk ekspor seperti komponen automotif, kakao, kopi, minyak, tekstil, alas kaki, kerajinan dan lainnya.

"Selain itu, ada juga konstruksi dan tenaga kerja terlatih. Pokoknya, dari aircraft sampai ha ndvcraft, semuanya ditampilkan di sini.TEI 2012 merupakan pameran business to business (B to B) berskala Internasional yang kita harapkan dapat memasarkan berbagai potensi kekayaan komoditas ekspor dalam negeri ke pentas dunia," kata Gita. Menurut Gita, Trade Expo Indonesia tahun ini menampilkan produk-produk unggulan mulai dari handucrafr sampai aircraft. Sejumlah produk seperti kebutuhan sehari-hari,makanan, minuman kerajinan hingga berbagai produk transportasi seperti mobil dan alat-alat militer seperti panser dan pesawat terbang. Gita berharap, parapelaku usaha semakin terpacu untuk terus bekerja keras memasarkan produk-produknya ke panggung Internasional.

Perekonomian Indonesia yang cukup stabil di tengah geliat krisis ekonomi global, menempatkan produk-produk lokal sebagai primadona dibanding komoditas ekspor milik bangsa lain.

Pasalnya, dari sisi kualitas dan harga, produk yang dimiliki bangsa ini j.m h lebih bisa bersaing. Ditambah lagi dengan keanekaragaman produk yang kaya dengan nilai-nilai dari masing-masing daerah yang ada di Indonesia.

Pameran ini juga berhasil mempertemukan sejumlah produsen dengan "Melalui TEI 2012, pelaku usaha dalam negeri dapat memasarkan produknya dan menjalin kerja sama yang lebih luas dengan dunia Internasional."

Presiden Republik Indonesiapara konsumen yang tidak hanya berniat berbelanja untuk diri sendiri, namun juga berencana untuk memasarkan di daerah asal mereka.

Hal ini seperti yang diakui oleh Augusto Vinciguerra, General Manager JordanCo, sebuah perusahaan asal Italia. Vinciguerra mengaku datang ke pameran karena tertarik dengan sej umi ah produk khas Indonesia. Dia misalnya menyatakan tertarik pada desain tas dari Solo, Jawa Tengah.

"Pameran dagang ini sangat menarik. Banyak produk asli Indonesia yang ditawarkan,seperti pada desain tasini. Di negara saya belum ada produk seperti ini. Cantik dan menarik desainnya, terlebih harga dan kualitas yang ditawarkan cukup bersaing," kata Vin-ciguerra kepadaS/M)O di ajang TEI.

Sementara, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indo-nesia (Kadin (Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Nastir Mansyur mengatakan, penyelenggaraan TEI menjadi sebuah momentum tersendiri untuk semakin meningkatkan kinerja ekspor produk-produk Indonesia.

Monday, December 16, 2013

Media dewasa ini sangat berperan sebagai pengontrol opini masyarakat untuk kepentingan pihak-pihak tertentu yang ingin berkuasa. Dia bagai dua mata sebuah pedang yang bisa digunakan untuk membangun atau menghancurkan. Fenomena ini membuat siapapun yang mampu menguasai media informasi akan memiliki power yang besar untuk menguasai serta mengarahkan cara pandang masyarakat luas. Sehingga tak heran jika kekuasaan media kini bahkan boleh dibilang lebih kuat dari pemerintah sekalipun.

Berikut adalah 7 raja yang menguasai media-media di Indonesia :


1. Jacob Oetama

  Dr. (HC) Jacob Oetama tergolong low profile dan jarang diekspos. Padahal, dia adalah penguasa dari Kompas Gramedia Group yang membawahi sejumlah media massa terkemuka di Indonesia, seperti harian Kompas, tabloid BOLA, tabloid Nova, majalah Bobo, majalah National Geographic, hingga majalah Hai, Chip, HotGame, Otomotif, dan tentu saja toko buku Gramedia, berikut penerbitan Elex Media Komputindo. Jacob Oetama lahir di Magelang, 27 September 1931. Karir jurnalistiknya dimulai ketika menjadi redaktur mingguan Penabur pada tahun 1956. Lulusan jurusan Publisistik Fisipol UGM ini kemudian mendirikan majalah intisari tahun 1963 bersama P.K Ojong. Bersama P.K Ojong pula, pada tanggal 28 Juni 1965 Jacob mendirikan harian Kompas. Pada era 1980-an, Kompas Gramedia berkembang pesat, hingga akhirnya mampu mendirikan sejumlah anak perusahaan seperti yang telah saya sebutkan tadi. Selain menjadi presiden direktur KG Group, Jacob saat ini juga menjabat sebagai penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.


2. Hary Tanoesudibjo


Kepiawaian Hary dalam berbisnis telah terlihat sejak dia masih duduk di bangku kuliah di Toronto, Kanada. Di sana, dia kerap bermain di bursa saham dan berkenalan dengan banyak investor handal. Sepulang ke Indonesia, dengan meminjam modal dari sang ayah, Hary mendirikan PT Bhakti Investama di Surabaya. Pria kelahiran 26 September 1965 ini kemudian banyak terlibat dalam kegiatan investment banking, serta aksi merger dan akuisisi. Perusahaan-perusahaan yang bermasalah diambil alihnya, kemudian diperbaiki dan dijual kembali. Hary juga pintar dalam membaca peluang serta mencari sumber dana. Aksi akuisisinya tidak dilakukan dengan modal sendiri, melainkan dengan cara mencari dana dari publik melalui konsorsium ataupun penawaran saham.

 Tahun 2002, Hary bergabung dengan Bimantara Citra atau Global Mediacom dan kemudian menjadi presiden direkturnya (Group Executive Chairman) hingga sekarang. Global Mediacom sendiri kemudian menguasai saham dari PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC), yang membawahi 3 stasiun tv : RCTI, TPI (kini MNCtv), dan Global TV. Hary pun lantas menjadi Direktur Utama dan CEO PT tersebut sampai saat ini. Selain 3 stasiun tv itu, MNC juga memiliki PT Media Nusantara Informasi yang antara lain meliuputi Harian Seputar Indonesia, Tabloid Gennie, Mom & Kiddie, dan Realita. Kemudian dibangunnya pula rumah produksi SinemArt dan MD Entertainment, hingga situs online Okezone.com. Di samping itu, Hary juga menjabat sebagai komisaris Indovision.


3. Dahlan Iskan


Pria kelahiran Magetan Jawa Timur tahun 1951 ini saat ini tengah naik daun, setelah berturut ditunjuk sebagai direktur PLN, dan kemudian kini menjabat sebagai menteri BUMN Kabinet Indonesia Bersatu II. Gaya khasnya yang suka memakai sepatu kets ke manapun, tampil apa adanya, dan doyan bicara blak-blakan membuat makin banyak orang yang mengidolainya. Sebelum menjadi dirut PLN, Dahlan adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network. Karir jurnalisnya dimulai ketika menjadi calon reporter di sebuah surat kabar kecil di Samarinda, pada tahun 1975. Tahun 1976 dia pindah bergabung menjadi wartawan di majalah Tempo. 

Tahun 1982, Dahlan Iskan mulai memimpin surat kabar Jawa Pos. Harian yang waktu itu hampir mati karena hanya beroplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun dibuatnya menjadi surat kabar beroplah 300.000 eksemplar. Lima tahun berselang, Jawa Pos News Network (JPNN) dibentuk dan menjadi salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di seluruh Indonesia. Tahun 2002, Dahlan mendirikan stasiun tv lokal JTV di Surabaya, diikuti Batam tv di Batam dan Riau tv di Pekanbaru.


4. Chairul Tanjung


Chairul Tanjung adalah bos PT Trans Corporation yang membawahi dua stasiun tv populer, Trans TV dan Trans 7. Chairul yang lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 mulai berbisnis ketika kuliah di jurusan Kedokteran Gigi UI. Saat itu ia berbisnis kecil-kecilan dengan berdagang buku kuliah, kaos, serta membuka usaha fotokopi di kampusnya. Dia juga sempat membuka toko alat-alat kedokteran dan laboratorium di daerah Senen, tapi usaha itu bangkrut. Kegagalan itu memberinya pelajaran, hingga ketika lulus kuliah, Chairul sempat mendirikan PT Pariarti Sindhutama bersama 3 rekannya, yang usahanya memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Usaha ini terbilang sukses, hingga ia melebarkan bisnisnya ke industri genting, sandal, dan properti. Perbedaan visi kemudian membuat 2 rekan Chairul mengundurkan diri, dan dia harus menjalankan bisnisnya sendiri. Chairul kemudian mengakuisisi sebuah bank yang nyaris pailit, Bank Tugu. Chairul yang pernah belajar dari kegagalan, mampu mengubah bank tersebut kini menjadi Bank Mega yang memiliki omset di atas Rp 1 triliun. Bisnis Chairul makin meluas kebidang properti, keuangan, dan multimedia, hingga dia kemudian mendirikan Para Group. Melalui Para Group, Chairul mulai merambah bisnis hiburan dengan mendirikan Trans TV. Dia lalu membentuk anak perusahaan PT Trans Corp dengan tujuan mengambil alih TV7 yang menjadi milik Kompas Gramedia, untuk dihubungkan dengan Trans TV.


5. Surya Paloh


Surya Paloh telah terbiasa berbisnis sejak masih remaja di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sembari bersekolah, dia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dan lain-lain. Menginjak SMA, dia bekerja menjadi manajer sebuah Travel Biro. Setamat SMA, sambil berkuliah di Fakultas Hukum USU (Universitas Sumatra Utara), Surya juga dipercaya mengelola sebuah wisma pariwisata. Pada saat yang bersamaan, Surya juga dipercaya menjadi direktur utama sebuah PT distributor mobil Ford dan Volkswagen di Medan. Kemudian pada 1975 ditunjuk pula menjadi kuasa usaha hotel Ika Darroy Aceh. Pria kelahiran Aceh 16 Juli 1951 ini kemudian merantau ke Jakarta pada 1977 untuk mulai berbisnis di sana. Sejak saat itu pula dia mulai terjun ke dunia publishing, antara lain dengan memimpin surat kabar Prioritas. Tahun 1987, Teuku Yousli Syah selaku pendiri surat kabar Media Indonesia menggandeng Surya untuk memimpin surat kabar tersebut dan membentuk manajemen baru di bawah PT Citra Media Nusa Permana. Surya Paloh semakin mengembangkan bisnis medianya itu dengan membentuk Media Group, termasuk di dalamnya mendirikan stasiun tv Metro TV pada 25 Oktober 1999, yang merupakan stasiun tv berita pertama di Indonesia. Selain bisnis, Surya juga aktif di dunia politik, termasuk mendirikan partai baru Nasional Demokrat. Di partai ini dia bersinergi dengan raja media lain, Hary Tanoesudibjo yang berhasil membawa partai ini menjadi satu-satunya partai baru yang lolos verifikasi KPU untuk pemilu 2014 walau akhirnya harus berpisah karena adanya perbedaan kepentingan diantara keduanya.


6. Abu Rizal Bakrie


Aburizal Bakrie lahir di Jakarta, 15 November 1946, Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).
Dia menguasai media di Indonesia melalui anak sulungnya Anindya Bakrie, atau biasa dipanggil Anin. Pria muda kelahiran 10 November 1974 inilah yang menjabat sebagai presiden direktur dari Bakrie Telecom dan Visi Media Asia, yang mengelola stasiun tv ANTV dan TV One serta media online Vivanews.com.


7. Sariatmadja


Pemilik 99% saham SCTV adalah PT Surya Citra Media (SCM). Nah, sebanyak 77% saham SCM dikuasai oleh Keluarga Sariaatmadja lewat PT Abhimata Mediatama. Keluarga itu juga memiliki PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek)—pemegang lisensi tunggal komputer merek Compaq di Indonesia—yang berkongsi dengan PT Mugi Rekso Abadi (MRA, bentukan pengusaha Adiguna Soetowo)—dalam mendirikan O Channel.

Saturday, November 23, 2013

Di ketinggian 1100 mdpl, rumah-rumah beratap kerucut itu menghadirkan kekaguman akan sebuah budaya yang unik dan luhur. ItulahWae Rebo, sebuah kampung di punggung gunung yang terpencil di pedalaman Manggarai. Tepatnya  di desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat Flores.

Perlu persiapan fisik dan logistik untuk mencapai Wae Rebo, karena harus jalan kaki dan mendaki. Medannya pun lumayan melelahkan - jalan tanah yang berlumpur dan berbatu - kalau tak terbiasa. Sebaiknya kalau punya  rencana berwisata ke Flores, persiapkan juga fisik agar prima. Sayang kalau destinasi hanya ke Pulau Komodo tapi tidak mengunjungi Wae Rebo.

Foto: rolandtravel.co.id

Sementara bagi penjelajah alam, menuju Wae Rebo seperti perjalanan ke surga budaya yang mengagumkan. Tidak hanya keramahan penduduk kampung yang bakal menyambut kita, tetapi juga akan dimanja dengan aneka ragam vegetasi yang menarik, termasuk anggrek, palem, dan pakis yang berbeda. Serta populasi mengesankan kawananan burung yang seolah bernyanyi menyambut tetamu.

Awal Wae Rebo berkat musang
Konon menurut cerita setempat, Maro adalah orang pertama yang tinggal dan menetap di Wae Rebo. Diyakini berasal dari Minangkabau. Semula leluhur Maro tinggal di Wriloka, ujung barat Pulau Flores, pindah ke Pa’ang, lalu bergeser ke daerah pegunungan, Todo. Mereka berpindah lagi ke Popo. Di sini terjadi peristiwa aneh.

Kisahnya bermula dari sepasang suami-istri. Meskipun sudah tiba saatnya, sang istri belum melahirkan. Tujuh hari pun berlalu sehingga diputuskan membelah perut sang ibu agar si bayi selamat.

Bayi laki-laki itu selamat, tetapi sang ibu meninggal. Keluarga sang ibu yang berasal dari kampung lain tidak bisa menerima kejadian itu. Mereka menyerang Kampung Maro. Namun, pada tengah malam sebelum diserbu, muncul musang di rumah Maro.

Maro pun berucap, kalau musang membawa berita baik harus tenang. Namun bila musang membawa kabar buruk, diminta mengeluarkan suara. Musang itu mengeluarkan suara dan menjadi penunjuk jalan ke tempat yang aman bagi Maro.


Musang menuntun warga Maro mengungsi. Setelah menjauh dari Popo, di tempat tinggi mereka melihat kampungnya dibumihanguskan. Mereka pindah ke Liho dan musang itu menghilang. Dari Liho, mereka ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu.

Di Golo Pandu, Maro bermimpi bertemu roh leluhur yang memberi tahu mereka harus menetap di suatu tempat yang ditunjuk dan jangan berpindah lagi. Ada tempat yang letaknya tidak jauh dari Golo Pandu, dan di sana terdapat sungai dan mata air. Itulah Wae Rebo.


Rumah atap kerucut yang harus tujuh.
Di Kampung adat Wae Rebo ada tujuh niang atau rumah adat, yakni Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gendang Maro, Niang Gena Pirong, Niang Gena Jintam, dan Niang Gena Maro.

Jumlah rumah adat tak boleh lebih dari tujuh. Setiap rumah dihuni 6-8 keluarga. Jika anggota keluarga makin banyak dan dirasa perlu membangun rumah baru, harus di luar kampung adat.


Rumah adat Wae Rebo berbentuk khas. Pada bagian bawah atau ruangan dalam berbentuk bulat dan bagian atas mengerucut beratapkan ijuk.

Niang Gendang Maro, semacam rumah adat utama, diyakini merupakan tempat leluhur pertama yang datang dari Minangkabau. Bangunan itu setinggi sekitar 14 meter, jauh lebih tinggi daripada 6 niang lainnya.

Ketika Anda mengunjungi Wae Rabo, Anda dipersilakan untuk menghabiskan malam di Mbaru Niang, untuk bersosialisasi dan makan bersama komunitas Wae Rebo. Anda akan tidur di tikar, sebuah tikar anyaman yang terbuat dari daun pandan di mbaru niang, dan mendapatkan pengalaman bagaimana rasanya kehidupan dulu ketika keluarga besar masih menjalani hidup mereka di bawah satu atap. 

Sebagian besar orang bekerja di kebun mereka dari pagi sampai fajar, sibuk dengan panen kopi dan pengolahan kacang. Meskipun tenun bukan merupakan aktivitas utama di Wae Rebo, Anda mungkin dapat menemui beberapa wanita pengrajin kain  tenun songket tradisional. Para Tetua Adat akan memberi fasilitas tambahan jika Anda ingin tinggal di Wae Rebo untuk bermalam, ada beberapa pemandu lokal serta beberapa operator tur yang dapat mengatur jadwal tetap trekking  untuk Anda.

Pada Niang Gendang Maro ada tanda khusus. Di ujung atapnya ditancapkan Ngando, yang disimbolkan kepala kerbau, hewan yang dianggap terbesar. Kepala kerbau menjadi penanda telah dilakukan korban sekaligus pengesahan rumah adat dan kekuatan budaya rumah ini.

Pada bagian tengah rumah adat ada semacam tiang utama yang disebut bongkok. Wujudnya dua batang kayu yang disambung. Inilah Papa Ngando dan Ngando, simbol perkawinan lelaki dan perempuan. Rumah adat juga ditopang 9 tiang utama, yang menggambarkan kehidupan dari janin menjadi bayi melewati sekitar 9 bulan dalam rahim.


Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan kehidupan yang bulat, jangan diwarnai konflik, tetapi ketulusan, kebulatan hati, dan keadilan. Itu sebabnya musyawarah di rumah adat mengambil posisi duduk melingkar.

Ada pula molang, pada bagian belakang rumah, yang terbagi dalam tiga bagian, yakni dapur, ruang aktivitas keluarga, dan bilik tidur keluarga. ”Saat bayi lahir didekatkan ke periuk di dapur, sebab ada nyala api yang menghangatkan tubuh bayi.”

Selain itu, rumah adat utama ini terdiri dari 5 tingkat. Tingkat pertama rumah ini disebut lutur atau tenda. Lantai pertama ini digunakan sebagai tempat tinggal sang penghuni. Di tingkat kedua atau lobo adalah tempat menyimpan bahan makanan dan barang.

Naik satu lantai, di lantai tiga atau lentar adalah lantai yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam. Sama seperti tingkat 1, 2 dan 3, tingkat juga memiliki namanya sendiri, yaitu lempa rae. Lempa rae adalah tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang berguna saat hasil panen kurang berhasil. Nah, jika masuk di lantai paling akhir atau yang hekang kode, Anda bisa melihat aneka sesajian yang disimpan pemilik rumah untuk para leluhur.

Proses pembangunan rumah ini adalah tanpa menggunakan paku, melainkan dengan konsep pasak dan pen, dan diikat dengan rotan sebagai penguat setiap tulang fondasinya. Menurut cerita dari masyarakat ini, banyak sekali arsitek Indonesia dan luar negeri yang datang dan menginap untuk mempelajari konsep rumah adat Wae Rebo ini.



Aturan wisata


Perlu di perhatikan bagi para pengunjung ada beberapa kesepakatan diantara Masyarakat di sana yang menetapkan biaya admistrasi. Menurut salah seorang Tetua, uang administrasi serta pengelolaan uang tersebut adalah untuk biaya bahan makanan dan memasak makanan yang dibuat oleh para ibu serta pemeliharaan infrastruktur kampung seperti bahan bakar genset dan sumber air.  Secara berkala, hasil pengumpulan biaya administrasi itu akan dibuka bersama-sama oleh masyarakat dan diumumkan jumlahnya serta dibagi untuk pengelolaan kampung.

Biaya menginap di rumah adat Wae Rebo adalah Rp 225,000/orang sudah termasuk tiga kali makan. Jika tidak menginap, maka tamu dapat membayar Rp 100,000. 

Yang tidak boleh dilupakan adalah setiap tamu yang datang ke Wae Rebo harus melalui upacara Waelu. Para tetua adat akan memohonijin pada leluhur untuk menerima tamu serta memohon perlindungan hingga sang tamu meninggalkan kampung dan kembali ke tempat asalnya.





Sumber:


komodo.
negeritimur
travel.kompas.
archiholic99danoes

Sunday, October 27, 2013

Piala AFF U-19 2013 | Hasil Pertandingan Indonesia vs Malaysia - Indonseia hanya mampu bermain imbang 1-1 kala menghadapi Malaysia pada laga penyisihan grup B piala AFF U-19 yang berlasung pada 18/9/2013, malam ini. Meski Imbang, hasil ini mengantarkan Indonesia ke babak semifinal yang sudah di tunggu Timor Leste, juara grup A.

Permainan apik kedua tim menunjukan seolah laga hidup mati ini adalah final yang sesungguhnya. Jual beli serangan saling ditunjukan oleh kedua kesebelasan. Namun, petaka bagi Indonesia muncul pada menit ke 19. Serangan balik yang sistematis dari pemain Malaysia berhasil dimanfaatkan dengan baik. Tendangan keras Muhammad Jafri dari dalam kotak pinalti gagal dihalau kiper Indonesia, sehingga kedudukan berubah menjadi 1-0. Skor tidak berubah hingga turun minum 45 menit pertama.

Babak kedua, Indonesia yang ngotot untuk mencetak gol justru berkali-kali mendapat serangan balik yang mengancam gawang. Akhirnya, gol tunggal penyelamat sekaligus memastikan langkah Indonesia ke semifinal terjadi dimenit ke 52. Bola rebound setelah menyentuh tiang gawang langsung disepak dengan keras oleh Ilham Udin Armaiyn dan GOAL... . Skor imbang 1-1. Hingga pertandingan usai tidak ada algi gol yang tercipta.

Sementara pada laga lainnya grup B, Vietnam membantai Brunei Darussalam dengan skor 6-1. Hasil ini mengukuhkan Vietnam keluar sebagai juara Grup B dengan raihan 15 poin.

Ayo dukung Garuda Muda di piala AFF U-19 2013. Untuk lihat jadwalnya klik link berikut Jadwal Indonesia U-19 Piala AFF 2013 Live MNCTV

UPDATE: INDONESIA U-19 LOLOS KE FINAL PIALA AFF 2013
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!